Showing posts with label ANTENA. Show all posts
Showing posts with label ANTENA. Show all posts

Monday, March 18, 2013

Standar Operasional Prosedur (SOP) lnstallasi VSAT 1.8 Meter

- 0 comments
Standar Operasional Prosedur (SOP) lnstallasi VSAT adalah suatu standar installasi yang harus diterapkan pada saat installasi untuk mencapai kwalitas installasi yang maksimal agar sesuai dengan yang diharapkan. Setiap perusahaan VSAT memiliki SOP sendiri sebagai pedoman installer dalam melaksanakan pekerjaannya. Jadi setiap Teknisi (lnstaller) diwajibkan melakukan installasi sesuai denngan standar yang telah ditetapkan oleh perusahaan tersebut agar kwalitas installasi benar-benar memenuhi standar untuk mancapai manfaat yang maksimal dan sesuai dengan yang diharapkan.
Sebelum memulai installasi VSAT seorang teknisi harus mengetahui hal-hal berikut:
a. Mengetahui posisi satelit tujuan termasuk arah azimuth dan sudut elevasi. Lihat caranya di Cara Menentukan arah antena VSAT ( Parabola ).
b. Arah antenna tidak ada yang menghalangi atau line of sight dengan satelit tujuan, terutama pepohonan karena akan sangat berdampak dengan kwalitas sinyal yang diterima.
c. Usahakan mencari lokasi yang gampang dijangkau demi memudahkan teknisi saat melakukan maintenance.
d. Mempersiapkan Tools dan Laptop.
Berikut adatah langkah-langkah yang harus dilakukan untuk mencapai Standar Operasional Prosedur lnstallasi (SOP) VSAT tersebut:
1. Karena yang digunakan adalah Single Mounting ( Penetrating ) atau Ground Mounting maka langkah awal yang harus dilakukan adilah menggali lubang untuk menanam Mounting dengan ukuran 50cm x 50cm dengan kedalaman 60cm. Seperti yang terlihat pada gambar dibawah ini:
installasi VSAT
2. Langkah kedua adalah menanam grounding root, sebaiknya grounding root ditanam didalam lubang dan langsung dikaitkan dengan kabel grounding sebelum dilakukan pengecoran single mounting. Langkah kedua ini kelihatannya sepele tetapi harus diperhatikan karena seringkali langkah ini dilupakan, lihat gambar dibawah ini:
installasi VSAT
3. Langkah Selanjutnya adalah pasang mounting. Gunakan tiang penyangga untuk menopang mounting dan jangan dicor terlebih dahulu sebagai antisipasi jika dilokasi tersebut tidak mendapatkan sinyal akan memudahkan untuk dipindah kelokasi yang lain. Namun yang perlu diperhatikan adalah kekuatan tiang penyangga agar mounting tidak bergeser bila diberi beban dish antenna. Waterpass atau angle meter bahwa kandisi mounting betul-betul tegak lurus sehingga akan didapat hasil seperti dibawah ini:
VSAT
Level angle
4. Langkah selanjutnya adalah mempersiapkan Reflektor, pasang satu per satu frame support di belakang Reflektor. Pertama adalah dua buah spar reflector yang langsung menempel di reflector dengan keempat bautnya, lihat gambar dibawah ini:
Replector
5. Berikutnya pemasangan center frame support, dan ini tengah-tengah dari reflector sehingga nantinya hasil pointing bisa maksimal, lihat gambar dibawah ini:
replector
6. Setelah Frame Support terpasang, langkah selanjutnya adalah pemasangan Canister yang telah dilengkapi dengan pengatur Elevasi dan Azimut. Lihat gambar dibawah ini:
andrew
7. Langkah selanjutnya angkat reflector, pasangkan Canister pada Single Mounting yang telah di tanam dan pastikan juga Canister dalam kondisi tegak lurus dengan menggunakan Angle meter. Lihat gambar dibawah ini:
Canister
8. Selanjutnya rakit tiga spar penyangga feedhorn pada clamp feedhorn untuk mempermudah pemasangannya pada reflector nantinya. Lihat gambar dibawah ini:
feedhorn
9. Dan pasangkan spar tersebut pada feflector, seperti gambar dibawah ini:
antena
antena
10. Selanjutnya pemasangan feedhorn yang telah dirakit dengan LNB dan BUC-nya.Kemudian pasangkan kabel RG6 yang telah dilengkapi dengan konektornya, dan dilapisi dengan rubber tape untuk menjaga kemungkinan hujan tiba-tiba sebelum melakukan pointing. jangan lupa juga untuk menyambungkan kabel grounding ke BUC dan juga kemodem. Lihat gambar dibawah ini:
BUC
11. Selanjutnya setting modem dan lakukan pointing antenna hingga mendapatkan sinyal yang maksimal dilanjutkan dengan melakukan pengecoran Single Mounting, material yang digunakan adalah standar 1:2:3 dan disesuaikan dengan kondisi di lapangan. Jika pengecoran telah selesai dapat lakukan cross pole jika memungkinkan. Koordinasikan dengan NOC operator untuk melakukan cross pole. Terakhir rapikan instalasi kabel IFL, grounding dan penempatan Modem.
antena vsat

vsat
[Continue reading...]

Tuesday, March 12, 2013

Sunday, February 10, 2013

Penyebab gangguan siaran pada Parabola TV dan VSAT

- 0 comments
Penyebab gangguan siaran pada Parabola TV dan VSAT. Satu hal yang sangat penting untuk selalu harus dipenuhi adalah bahwa informasi yang dikirimkan dapat diterima ditempat lain dengan baik tanpa cacat, sesuai informasi aslinya dan dengan waktu penyampaian yang cepat. Salah satu penyebab gangguan link pada komunikasi satelit adalah gangguan interferensi. Interferensi pada sistem komunikasi satelit ialah diterimanya sinyal yang tidak diinginkan oleh pesawat penerima pada stasiun bumi atau satelit, yang berasal dari sistem lain dan mempunyai frekwensi yang sama. Interferensi ini terjadi jika bisa terjadi pada lintasan Uplink dan Downlink.
Beberapa kemungkinan interferensi yang terjadi pada sistem komunikasi satelit antara lain :

1. Sun Interference 
Sun interference
Seperti halnya bulan, maka pada suatu saat antara stasiun bumi, satelit dan matahari berada pada lintasan garis lurus. Sehingga frekwensi carrier yang dipancarkan oleh satelit akan terinterferensi oleh matahari, karena matahari sendiri fungsinya sebagai pemancar juga. Fenomena ini dalam komunikasi satelit dikenal dengan istilah SUNOUTAGE yang berlangsung maksimal selama 15 menit dan terjadi dua kali dalam setahun, untuk wilayah Indonesia pada umumnya terjadi pada bulan maret dan september, yang akan mengganggu lalulintas komunikasi data.

2. Intermodulasi
itermodulation product
Dalam pengoperasian stasiun bumi dimungkinkan untuk memancarkan beberapa carrier frekwensi yang di combine, kemudian di kuatkan dengan menggunakan sebuah High Power Amplifier (HPA) atau SSPA. Akibat dari sifat penguat yang tidak linear mengharuskan pengoperasian SSPA yang di Back-Off beberapa dB (minimal 7 dB), agar Intermodulation Product yang terjadi masih dalam batas 28 dBC down, atau minimal 28 dB bedanya (lebih baik lagi bila beda makin besar). Selain terjadi pada penguatan stasiun bumi, hal yang sama juga akan terjadi pada transponder satelit. Besarnya output backoff untuk palapa C adalah 4.5 dB dibawah titik saturasi. 

3. Interferensi Cross-Pol Kanal RF
interferensi cross pole
Bandwidth satelit adalah sumber daya yang terbatas, untuk meningkatkan kapasitasnya digunakan frekwensi re-use dengan kanal RF dipolarisasi orthogonal. Polarisasi yang digunakan pada satelit palapa C adalah polarisasi linear, dan ketentuan satelindo untuk besarnya isolasi Cross-Poll minimal adalah 30 dB (C/Xpol > 30 dB). Gambar disamping memperlihatkan adanya 3 carrier pada transponder dengan polarisasi horisontal akibat interferensi dari carrier tranposnder polarisasi vertikal. Dapat dipahami bahwa pengaturan isolasi Cross-Pol pada sebuah antena stasiun bumi sangatlah penting, karena cross pol yang tidak baik akan mengakibatkan carrier kita mengganggu carrier lain yang beroperasi pada polarisasi yang berbeda. Maka sewaktu instalasi dan pengarahan, pointing, peaking antena dan pengaturan OMT haruslah seteliti mungkin.

4. Interferensi Antar Satelit Yang Berdekatan
Interferensi ini diakibatkan oleh jarak antar satelit yang berdekatan (adjacent satelit) juga patern antena stasiun bumi yang tidak baik. Hal ini terjadi karena coverage dari satelit mempunyai cakupan daerah dan beroperasi pada frekwensi yang sama, sedangkan jarak satelit normalnya sekitar 20 . Oleh sebab itu untuk sistem komunikasi diharuskan menggunakan antena yang mempunyai spesifikasi side-lobe sebagai berikut :
G(φ) = 29 –25 log (Φ) ……………………………………..(2.1)
Dimana :
Φ = Sudut side-lobe antena
Dalam perhitungan interferensi antar satelit ada dua tipe yaitu interferensi Uplink dan interferensi Downlink. Interferensi antar satelit ini lebih disebabkan oleh sidelobe dari antena yang digunakan. Perhitungan interferensi antar satelit disimbulkan dengan C/Iadj
C/Iadj = G-29+25 Log (φ) ……………………………………(2.2)
Bila ada 2 satelit yang ada disebelahnya maka :
C/Iadj = G-29+25 Log (φ) – 3 ……….. ………………………(2.3)
Dimana :
G = Gain Antena (dBi),
Untuk C/Iadj Uplink menggunakan Gain Transmit antena
Untuk C/Iadj Downlink menggunakan Gain Receive antena
φ = Sudut jarak antar satelit , yaitu 2 derajat

5. Interferensi Oleh Transmisi Radio FM
Selain 70 Mhz, ada beberapa tipe perangkat VSAT (Modem dan U/D Converter) yang menggunakan setting center frekwensi IF-nya pada 140 Mhz dengan band frekwensi antara 104 - 176 MHz, seperti terlihat pada gambar dibawah.
band freq Radio FM
Dengan demikian memungkinkan sinyal radio FM masuk dalam sistem stasiun bumi melalui terminasi konektor, shielding dan grounding perkabelan yang tidak sempurna. Sinyal radio FM tersebut bila masuk dalam sisi transmit Up-Converter akan ikut serta ditransmisikan sebagai sinyal RF yang dipancarkan menuju ke satelit, seperti tampak pada gambar berikut
Interferensi Radio FM Pada Transponder Satelit

6. Interferensi Oleh Transmisi Gelombang Mikro Teresterial
Gelombang Mikro (microwave) merupakan gelombang elektromagnetik yang berfrekwensi tinggi, yang mempunyai panjang gelombang antara 1millimeter sampai 1 meter. Microwave menempati tiga band frekwensi yaitu band UHF(Ultra High Frekwensi) : 0,3 – 3 Ghz, band SHF(Super High Frekwensi), dan band EHF(Extremelly High Frekwensi) : 30 – 300 Ghz.
Interferensi Stasiun Bumi Akibat Jaringan Teresterial
Dalam pemilihan lokasi antena stasiun bumi, sering sekali mengabaikan kemungkinan gangguan (interferensi) transmisi gelombang mikro sekitarnya. Acapkali survey yang dilakukan hanya mencakup aspek antena dan path obstruction, tanpa disertai pendataan spektrum RF yang terdapat pada lokasi, atau gangguan lainnya yang ditimbulkan oleh mesin-mesin listrik, lalu-lintas kendaraan serta kemungkinan spurious dari pemancar radio (Siaran & omunikasi) yang terlalu kuat. Interferensi ini sering disebut sebagai Interferensi Lokal karena hanya terjadi disekitar stasiun bumi saja. Interferensi inilah yang terjadi pada PT.POSINDO SOLO sebagai bahan bahasan. Pada prakteknya banyak lokasi (antena) stasiun bumi yang sangat tidak memadai sehingga setelah semua selesai instalasi, dapat saja kwalitas penerimaannya buruk atau tidak dapat memenuhi spesifikasi tertentu, sering down atau sulit sinkronisasi, Bit Error Rate tinggi dan keluhan-keluhan lainnya.
Sangkar Faraday
Bila pada lokasi tersebut memang dialami Interferensi RF jenis tersebut, maka penanggulangannya akan sulit sekali . Beberapa cara penanggulangannya adalah dengan pemasangan Shielding (Sangkar Faraday) seperti yang ditunjukkan pada Gambar diatas atau me-relokasi antena dan bahkan pemindahan stasiun bumi.
[Continue reading...]

Sunday, February 3, 2013

Menelpon menggunakan jaringan internet gratis

- 0 comments

     Menelpon menggunakan jaringan internet gratis. Telepon merupakan kebutuhan telekomunikasi yang paling utama di Indonesia ataupun di dunia. Orang bahkan rela mengeluarkan sejumlah uang hanya untuk menelepon rekan bisnis maupun koleganya yang terletak di luar kota bahkan negara. Namun dewasa ini, biaya komunikasi telepon cukup mahal khususnya di Indonesia.
Karena pada beberapa segmen masyarakat terutama di kalangan bisnis, kebutuhgan telepon hamir dapat disamakan dengan kebutuhan manusia akan kebutuhan primer.
a. TCP/IP dan Voice Over Internet Protocol (VoIP) 
Tak dapat disangkal teknologi yang berkembang paling pesat saat ini adalah teknologi komunikasi data. Pemicunya adalah Internet, jaringan komunikasi data global yang berbasis protokol komunikasi TCP/IP. Perkembangan teknologi yang sangat pesat ini turut mendorong terciptanya suatu infrastruktur komunikasi data yang murah dan massal. Keberadaan infrastruktur ini membuat sebagian orang berpikir untuk melewatkan suara dalam jaringan ini. Pemikiran seperti inilah yang mendorong perkembangan teknologi Voice over Internet Protocol (VoIP).
VoIP sendiri ialah teknologi yang memungkinkan komunikasi suara dan fax menggunakan jaringan berbasis IP (Internet Protocol) untuk dijalankan diatas infrastruktur jaringan packet network. Jaringan yang digunakan bisa berupa internet atau intranet. Teknologi ini bekerja dengan jalan merubah suara atau fax menjadi format data digital tertentu yang dapat dikirimkan melalui jaringan IP. Berbagai macam produk telah tersedia di pasaran, baik berupa software yang merubah suara menjadi data digital dan mengirimkannya ke tujuan, sampai dengan integrasi hardware /software yang mampu menyediakan sarana komunikasi suara dan fax dengan kualitas setara dengan carrier-class network.
b. Perkembangan Teknologi Pendukung VoIP 
(1) Chip DSP 
Digital Signal Processor (DSP) merupakan komponen utama dalam proses kompresi suara. Arsitektur DSP processor didesain untuk perhitungan aritmatik yang berhubungan dengan algoritma pengolahan sinyal digital berkecepatan tinggi. Pada awalnya, DSP dijual dengan harga cukup mahal dan kemampuan pengolahannya belum optimal untuk implementasi algoritma kompresi suara yang membutuhkan kecepatan dan throughput data tinggi, padahal transmisi suara di atas infrastruktur packet network dengan kualitas yang dapat diterima manusia membutuhkan algoritma kompresi dan pengolahan sinyal yang kompleks, disertai dengan kebutuhan computing power (dihitung dalam skala Million Instruction Per Second atau MIPS) yang cukup tinggi. Akibatnya, pada masa lalu solusi transmisi suara diatas packet network bukan merupakan solusi cost-effective apabila dilihat dari aspek biaya dan kualitas suara yang dihasilkan.
Tetapi, dewasa ini harga DSP processor semakin menurun berlawanan dengan kemampuan komputasi processor yang semakin tinggi. Dengan kemampuan komputasi ini, maka kualitas suara yang dihasilkan otomatis menjadi semakin tinggi sedangkan biaya pembuatan sistem menjadi semakin rendah.
(2) High Speed Router 
Router memiliki peranan untuk proses routing paket dari satu jaringan ke jaringan yang lainnya. Pada awalnya router hanya melakukan proses routing dan forwarding paket dari satu interface ke interface jaringan yang lain dengan cara best-effort.
Dewasa ini, dengan didukung teknologi mikroelektronika dan digital yang canggih telah dihasilkan high speed router yang mampu menggabungkan proses routing, forwarding, dan switching paket diatas hardware dengan kualitas wirespeed performance dan arsitektur non-blocking, sehingga mampu menangani jaringan berkecepatan tinggi yang hingga saat ini telah mencapai skala 2,4 Gbps dengan delay proses yang sangat rendah.
Selain kemampuan diatas, router masa kini telah dibekali kemampuan untuk menerapkan Quality of Service (QoS) di jaringan. Berbagai algoritma untuk antrian (queueing) seperti Weighted Fair Queuing (WFQ) dan protokol alokasi resource jaringan seperti Resource Reservation Protocol (RSVP) telah diintegrasikan pada software dan hardware yang ada pada router. Karena transmisi suara di atas packet network membutuhkan kualitas transmisi jaringan yang tinggi dan perlakuan yang berbeda, maka router sebagai salah satu komponen pada packet network telah siap digunakan untuk mendukung transmisi suara yang akan dijalankan diatas infrastruktur packet network.
(3) DWDM (Dense Wave Division Multiplexing)
Dewasa ini, cahaya merupakan salah satu media yang banyak dipilih untuk sarana transmisi data jarak jauh berkecepatan tinggi yang biasanya ditemukan pada backbone jaringan. Pada umumnya, cahaya ditransmisikan pada media kabel fiber optic. Biaya yang dibutuhkan untuk membentang kabel fiber optic masih sangat mahal, sehingga besar bandwith maksimum yang dapat ditampung oleh backbone dibatasi oleh jumlah kabel yang dibentang, karena untuk ekspansi selanjutnya dibutuhkan biaya yang sangat besar.
Akan tetapi, karena kebutuhan bandwith untuk transmisi data meningkat pesat, sedangkan kebutuhan tersebut tidak diikuti dengan penambahan kapasitas backbone (yang berarti membentang kabel baru), dikarenakan limitasi biaya, maka untuk memenuhi kebutuhan tersebut perlu digunakan suatu teknologi yang mampu meningkatkan bandwidth transmisi kabel fiber optic itu sendiri tanpa harus membentang kabel baru.
Teknologi Dense Wavelength Division Multiplexing (DWDM) mampu meningkatkan kapasitas kabel fiber optic dari maksimum 2,4 Gbps menjadi 100 Gbps. Artinya, pada satu kabel yang sama, kemampuannya dapat ditingkatkan hingga mencapai 50 kali lipat. Solusi ini dianggap cukup efisien dari segi biaya dan peralatan, karena pemilik backbone cukup menambahkan peripheral yang dibutuhkan tanpa perlu membentang kabel baru.
c. Keuntungan VoIP
(1) Harga peralatan yang lebih murah 
Teknologi voice over IP dibangun berbasis teknologi internet yang perkembangannya sangat cepat. Perkembangan yang sangat cepat ini menyebabkan harga peralatan akan turun secara drastis. Berbeda dengan teknologi PBX dan PSTN yang cenderung statis.
(2) Efisiensi bandwith
Keuntungan menggunakan voice over IP timbul terutama dari semakin murahnya komponen elektronik terutama chip DSP, murahnya chip DSP ini memungkinkan diwujudkannya hal-hal yang dulu mustahil dilakukan seperti melakukan kompresi suara menjadi paket data 8 Kbps dengan kualitas sama dengan 64 Kbps PCM. Besar kanal yang saat ini digunakan oleh satu kanal suara dengan teknologi VoIP dapat digunakan oleh delapan kanal suara, sehingga otomatis tarif telekomunikasi pun akan menurun drastis. Penurunan tarif kan semakin terasa jika sistem ini digunakan untuk SLJJ.
Selain itu, dengan adanya feature silence suppression dan voice detection (VAD), bandwidth jaringan yang ada, dapat sekaligus dipakai untuk transmisi data dan suara. Akibatnya, efisiensi kanal akan semakin tinggi.
(3) Biaya perawatan yang murah 
Karena VoIP berbasis pada teknologi internet, jaringan internet yang sudah ada dapat diperluas sehingga men-support teknologi ini dengan harga yang murah. Selain itu jaringan dapat dikelola dengan cara dan pengetahuan yang tidak jauh berbeda dengan mengelola jaringan internet. Pengelola internet di jaringan yang bersangkutan cukup mengatur satu jaringan saja.
(4) Munculnya aplikasi baru
Karena VoIP dibangun diatas jaringan internet, yang dikenal dengan timbulnya berbagai jenis aplikasi baru yang menarik, maka dimungkinkan adanya pengembangan dan penambahan service baru untuk value added service (VAS) yang sudah ada. Contohnya user dapat menelepon tanpa harus memutuskan sambungan internetnya atau user dapat dihubungi walaupun sedang berinternet.
d. Aplikasi Baru untuk VoIP 
Berikut ini beberapa kemungkinan aplikasi yang mungkin diterapkan dengan dijalankannya service VoIP ini dilihat dari sisi pengguna atau operator jaringan VoIP.
(1) Business to Business 
Pihak pertama yang dapat diuntungkan oleh teknologi ini ialah perusahaan besar, terutama yang memiliki lokasi tersebar dalam jarak berjauhan dan sudah memiliki intranet atau jaringan komputer antar cabang perusahaan.
(2) ISP
Internet Service Provider ialah yang paling berpeluang untuk mengambil kesempatan dengan teknologi ini. Tersedianya infrastruktur jaringan berbasis IP serta point of present di berbagai tempat merupakan keunggulan tersendiri. Dengan teknologi Voice over IP ini, ISP dapat memberikan beberapa service tambahan bagi pelanggannya.
e. Arsitektur Sistem VoIP 
VoIP merupakan salah satu bagian dari metode pengiriman suara menggunakan teknik packet voice. Metode packet voice yang lain adalah Voice over ATM dan Voice over Frame Relay. Semua jaringan packet voice menggunakan prasarana jaringan paket (packet network). 
Di sisi jaringan paling luar (edge) terdapat komponen, yang disebut voice agent. Tugas dari komponen ini adalah untuk merubah informasi suara dari telepon menjadi bentuk data yang dapat ditransmisikan pada jaringan paket. Jaringan kemudian akan mentransmisikan data ke voice agent yang terhubung dengan telepon tujuan.
Jaringan VoIP dapat ditinjau dari dua segi yang berbeda, yaitu voice agent dan packet network itu sendiri.
(1) Voice agent
Voice agent sangat menentukan kualitas suara yang ditransmisikan pada jaringan VoIP. Terdapat dua komponen pada voice agent yang perlu diperhatikan, yaitu voice coding dan signalling di dalam jaringan VoIP.
Voice Coding 
Suara manusia dan semua suara yang bisa kita dengar, secara umum merupakan sinyal analog. PSTN mentransmisikan suara dalam bentuk sinyal digital, karena transmisi sinyal analog memiliki banyak kelemahan.
PSTN merubah sinyal suara dari telepon diubah ke format digital yang disebut Pulse Code Modulation (PCM). PCM melakukan sampling sinyal analog dengan rate 8000 sample/detik dan tiap sample direpresentasikan dalam kode 8 bit. Dengan ini, untuk satu percakapan dibutuhkan satu kanal dengan kapasitas 64 Kbps. Salah satu pengembangan dari PCM, yaitu ADPCM menggunakan pengkodean 4 bit untuk setiap sample sehingga membutuhkan kanal dengan kapasitas 32 Kbps untuk setiap percakapan. 
Signalling 
Signalling merupakan bagian lain dari voice agent yang bertugas untuk melakukan inisialisasi percakapan. Jaringan VoIP ataupun packet voice application yang fungsional harus mampu menyediakan layanan dimana pemanggil cukup menggunakan mekanisme dialing yang ada untuk terhubung ke voice agent dan kemudian mampu dihubungkan ke telepon tujuan yang terhubung pada voice agent yang lain. 
Terdapat dua model signalling pada jaringan packet voice: 
Transport model 
Pada model ini, dua voice agent saling terhubung satu sama lain dalam konfigurasi point-to-point.
Translate model 
Pada model ini, sejumlah voice agent dapat terhubung ke jaringan yang mengerti metode signalling yang digunakan. Voice agent harus mampu melakukan mapping dari nomor telepon menjadi IP, Frame Relay, atau ATM address sesuai dengan teknologi yang digunakan melalui service lain yang mampu menunjukkan voice agent yang terhubung ke nomor telepon tujuan.
Pada jaringan packet voice, signalling dibagi menjadi dua bagian: external dan internal. External signalling berhubungan dengan signalling antara telepon / PABX dengan voice agent. Sedangkan internal signalling berhubungan dengan signalling antar voice agent di dalam network cloud.
Internal signalling harus mampu menyediakan dua kemampuan: kontrol koneksi dan informasi status koneksi. Kontrol koneksi digunakan untuk pembuatan jalur untuk transmisi data antar dua voice agent. Informasi status koneksi bertugas memberikan sinyal busy, ringing dan sebagainya. Untuk VoIP, standar H.323 telah disepakati untuk digunakan pada internal signalling.
H.323 merupakan standard yang dikembangkan oleh International Telephony Union (ITU) untuk transmisi traffic komunikasi multimedia pada jaringan intranet maupun packet network. H.323 mendefinisikan jaringan multimedia secara lengkap, mulai dari peralatan sampai protokol yang digunakan.
Komponen-komponen dari standard H.323 yang digunakan pada jaringan VoIP antara lain:
1. H.323 Gateway 
H.323 gateway digunakan sebagai gateway antara telepon (PSTN) / PABX dengan jaringan packet H.323. Gateway menyediakan interface ke PSTN, mengolah sinyal suara dan fax ke format paket yang dapat ditransmisikan di jaringan, dan melakukan komunikasi dengan gatekeeper untuk menjalankan fungsi Registration Admission Status (RAS) untuk routing paket ke tujuannya di dalam jaringan.
2. H.323 Gatekeeper 
Gatekeeper digunakan untuk address resolving menemukan IP address dari gateway yang dituju, dan mengatur bandwith serta Quality of Service yang dibutuhkan. Gatekeeper mampu melakukan administrasi satu zona yang terdiri dari beberapa H.323 gateway.
f. Masalah di Jaringan Internet: Quality of Service 
Sebagai jaringan yang didesain sejak awal sebagai jaringan komunikasi data, jaringan internet mempunyai karakteristik yang berbeda dibandingkan dengan jaringan telepon. Data-data mengalir di Internet memperebutkan bandwidth yang ada. Kecepatan sampainya data tergantung pada banyak dan besarnya paket data yang berebut bandwidth pada saat yang sama. Semua paket data diperlakukan dengan perlakuan yang sama.
Kondisi jaringan yang seperti ini berbeda dengan jaringan telepon biasa, dimana suatu kanal hanya dikhususkan untuk satu pembicaraan telepon. Tidak terdapat perebutan bandwith di sana. Akibatnya, kualitas suara pun terjaga.
Beberapa masalah yang timbul akibat tidak terjadinya Quality of Service data, yaitu: 
Kekurangan bandwith 
Delay yang terlalu lama 
Jitter / variasi delay 
Agar jaringan IP / internet dapat dengan sukses melewatkan paket data berupa suara, jaringan ini harus dimodifikasi sedemikian rupa sehingga mampu memberikan Quality of Service sesuai permintaan aplikasi VoIP ini, parameter tersebut ialah Bandwith, Delay, dan Jitter.
(a) Bandwidth
Yang pertama kali harus dilakukan agar jaringan IP memiliki QoS ialah dengan memberi fasilitas pengalokasian bandwith pada jaringan ini. Dengan alokasi bandwith, setiap aliran / flow paket data yang berisi suara mendapatkan jatah bandwith yang tetap dan tidak perlu berkompetisi dengan paket data lain. Teknik alokasi bandwith ini dilakukan dengan teknik-teknik seperti RED (Random Early Detection), WRED (Weighted Random Early Detection), dan WFQ (Weighted Fair Queuing).
(b) Delay
Jenis jenis delay:
Accumulation Delay/Algorithmic Delay 
Delay ini terjadi karena frame suara harus dikumpulkan terlebih dahulu sebelum di proses oleh voice coder. Lama delay ini tergantung jenis voice coder dan waktu samplingnya.
Processing Delay 
Delay ini terjadi karena proses pengumpulan dan pengkodean sample suara menjadi paket data yang siap untuk ditransmisikan dalam jaringan. Delay ini tergantung pada kecepatan processor dan algoritma yang digunakan.
Network Delay 
Delay ini disebabkan oleh medium fisik dan protokol yang digunakan untuk transmisi data., serta besarnya buffer yang digunakan untuk menghilangkan jitter di penerima receiver. Network delay ini tergantung pada kapasitas jaringan serta kecepatan processing di router yang dilalui.
(c) Jitter/Variasi Delay
Selain, meminimasi delay, problem utama dalam VoIP ialah bagaimana mengeliminasi jitter / variasi delay. Cara yang digunakan untuk mengeliminasi delay ialah dengan mengumpulkan serta menahan sementara beberapa urutan paket data di buffer sehingga paket terakhir tiba, sehingga dapat dimainkan dalam selang waktu yang tepat. Buffer ini disebut dengan dejitter buffer. Namun hal ini menyebabkan delay tambahan.
(d) Protokol QoS diatas TCP / IP
1. Resource Reservation Protocol (RSVP)
Resource Reservation Protocol (RSVP) adalah protokol yang memungkinkan user melakukan reservasi bandwith ke tujuannya sebelum melakukan transaksi data. Pada umumnya di jaringan terdapat dua jenis traffic:
Traffic data yang tidak membutuhkan reservasi bandwith karena telah diatur oleh protokol di level transport. Protokol di level transport seperti TCP memungkinkan adanya kontrol aliran data secara end-to-end. 
Traffic data real-time yang membutuhkan reservasi bandwith karena sering mengalami masalah apabila bergantung pada protokol di level transport tidak dapat menjamin komunikasi data 
Aplikasi-aplikasi berbasis data, umumnya tidak membutuhkan reservasi bandwith dan membutuhkan bandwith yang lebih kecil dibandingkan traffic real-time. Sedangkan pada aplikasi real-time membutuhkan hal yang sebaliknya. Pada jaringan tradisional, kedua aplikasi tersebut harus berebut resource jaringan yang ada.
Pada jaringan yang menggunakan RSVP, maka kemungkinan penggunaan bandwith yang tersedia oleh aplikasi data seperti FTP dapat dihindari. Router-router yang telah RSVP-aware akan memeriksa prioritas data yang datang dan akan melakukan seleksi pengiriman data atas dasar prioritasnya.
Mekanisme RSVP memungkinkan traffic data real-time melakukan reservasi bandwith terlebih dahulu sehingga performa traffic akan selalu konsisten dari waktu ke waktu.
2. Real Time Protocol (RTP) dan Compressed Real Time Protocol (CRTP) 
Real Time Protocol (CRTP) header merupakan protokol standar internet yang digunakan untuk transportasi data-data real-time seperti suara pada VoIP. RTP ditujukan sebagai sarana transpor data untuk aplikasi-aplikasi video-audio conferencing dan aplikasi audio visual lain di jaringan.
RTP terdiri dari dua bagian, header dan data. Bagian data merupakan satu protokol tersendiri yang digunakan untuk mendukung fungsi dari aplikasi yang digunakan. Bagian header RTP berukuran cukup besar, sebagai contoh apabila digabungkan dengan header IP dan UDP, ukuran header RTP dapat berukuran 40 byte. Untuk aplikasi VoIP dengan data yang hanya berukuran 20 byte, maka sangat tidak efisien apabila kita langsung mentransmisikan data dengan RTP tanpa mengkompresinya terlebih dahulu.
Untuk meningkatkan efisien penggunaan bandwidth pada transmisi data menggunakan RTP, maka dikembangkan Compressed Real Time (CRTP). Protokol ini mampu melakukan kompresi header RTP/ UDP/ IP dari 40 byte hingga berukuran 2 - 5 byte.
[Continue reading...]

Wednesday, January 30, 2013

Cara Menentukan arah antena VSAT ( Parabola )

- 3 comments
Menjadi seorang teknisi VSAT harus memiliki pengetahuan tentang satelit.hal ini akan sangat berguna bila akan melakukan instalasi antena VSAT baru di lokasi yang baru pula. Pada saat instalasi akan muncul pertanyaan dalam benak kita "kemana antena seharusnya diarahkan supaya mendapatkan sinyal?", untuk menjawab pertanyaan tersebut hal pertama yang harus diketahui adalah koordinat satelit tujuan dan koordinat lokasi VSAT dipasang.

Satelit di angkasa memliki koordinat yang menunjukkan dimana lokasi satelit tersebu berada, begitu pula dengan suatu lokasi di permukaaan bumi ini juga memiliki koordinat.Tiap koordinat satelit dan lokasi dipermukaan bumi akan berbeda-beda meskipun perbedaanya hanya sedikit. salah satu contoh koordinat satelit yaitu Telkom 2 berada di 118E, Palapa C2 113E dan koordinat lokasi Makassar berada di latitude 05.10S dan longitude 119.20E.Koordinat lokasi bisa dilihat di peta ataupun yang lebih canggih yaitu google earth dan GPS,atau kalau tidak mau repot silahkan download di koordinat kota indonesia. Mungkin koordinat kota-kota di indonesia yang saya lampirkan tidak ada kota tempat anda berada saat ini,gunakan koordinat kota terdekat dengan posisi anda.
Setelah koordinat satelit dan koordinat lokasi VSAT diketahui, langkah selanjutnya menghitung kemana arah antena. Tidak perlu pusing bagaimana dan rumus apa yang digunakan, cukup gunakan software Satmaster anda hanya perlu memasukkan koordinat satelit dan koordinat lokasi VSAT,maka azimuth (arah antena), elevasi ( kemiringan antena) beserta polarizasi ( polar antena) akan muncul seketika. tinggal arahkan antena menggunakan kompas dan ukur kemiringan menggunakan inclinometer serta atur putar polar sesuai arah jarum jam mengikuti nilai polarisasi. Jangan lupa ya untuk tipe antena offset sudut elevasi di kurangi 22.5 derajat dan maksimalkan nilai pointing semampunya...
Download Software Satmaster

1.instal satmaster
2.Pada halaman utama klik File --> New --> Look Angles
3.cari nama kota lokasi di SITE dan koordinat satelit di SAT klik OK

4.Hasil perhitungan
[Continue reading...]
 
Copyright © . Tutorial VSAT, Parabola TV dan Teknologi Informatika - Posts · Comments
Theme Template by BTDesigner · Powered by Blogger